Minggu, 31 Mei 2015

Pterodactyl Si Penguasa Angkasa





Pterodactyl Si Penguasa Angkasa


Pterosaurus atau biasa disebut Pterodactyl adalah sejenis reptil terbang. Ia hidup bersamaan dengan dinosaurus dan punah disekitar waktu yang sama dengan dinosaurus. Pterodactyl berasal dari bahasa Yunani yang berarti kadal yang bersayap . Panjang tubuhnya ketika berdiri mencapai 3 meter dan bentangan sayapnya yang lebar mencapai 10 meter. Sayap pterodactyl terbuat dari suatu zat kasar dan beberapa pterodactyl memiliki mantel bulu. Pterodactyl selain terkenal dengan bentangan sayapnya yang lebar juga terkenal karena paruhnya yang panjang. Pterodactyl diyakini oleh beberapa kalangan ilmuwan, mampu terbang hingga 10.000 mil tanpa berhenti. Sayap yang lebar digunakan untuk melepaskan udara hangat dan arus angin dalam melakukan penerbangan jarak jauh. Pterosaurus memiliki leher panjang dan tertutup oleh struktur seperti bulu dengan kantong tenggorokan memanjang dari tengah rahang bawah ke bagian atas leher.Makhluk ini memiliki tengkorak panjang dan sempit dan berisi sekitar 90 gigi berbentuk kerucut berukuran besar.
Ciri khas lain dari pterodactyl adalah tonjolan dibelakang kepalanya. tonjolan di bagian belakang kepala yang terdiri terutama dari jaringan lunak dan ditutupi sisik. Karena baru mulai nampak pada spesies dewasa, diperkirakan tonjolan ini tidak memiliki fungsi praktis dan sekedar sebagai hiasan. Namun Fosil pterodactyl berusia 160 juta tahun menunjukkan bahwa pejantan menggunakan kepala mereka yang besar untuk menarik perhatian betina. Dinosaurus reptil betina tidak memiliki tanda dekoratif apapun di kepala mereka. Di sisi lain, pejantan memiliki ukuran tengkorak lima kali lebh besar.Pterodactyl pertama dijelaskan pada tahun 1784 oleh Cosimo Alessandro Collini. Pada awalnya dia berpikir menemukan makhluk laut yang menggunakan sayapnya sebagai dayung. Kemudian Seorang naturalis Perancis, Georges Cuvier, memperkenalkan istilah “Ptero-dactyle” pada tahun 1809 setelah ditemukannya kerangka fosil di Bavaria, Jerman
Pterodactyl merupakan salah satu pterosaurus (reptil terbang purba) yg paling terkenal. Pterodactyl menjadi nama sub ordo (Pterodactyloidea) yg menjadikan pterosaurus terbagi 2 kelompok (Pterodactyloidea dan Rhamphorhynchoidea). Hewan yg hidup pada periode Jurassic ini bukanlah dinosaurus, sebab pterodactyl tidak memiliki ciri khas tulang pubis dan tulang ekor dinosaurus (pada ornithischia dan saurischia) serta semua dinosaurus adalah hewan darat yg tidak bisa terbang. Fosil pterodacytl ditemuukan di Eropa dan Afrika. Seperti kebanyakan pterosaurus, sayap pterodactylus terbentuk dari kulit dan membran otot yg membentang dari keempat jarinya hingga tungkai belakangnya. Sayap luarnya disangga fiber kolagen sementara bagian luarnya disangga keratin.

 
“Kemungkinan mereka hanya mengepakkan sayap selama beberapa menit pada saat yang sama, kemudian mereka akan memfungsikan otot mereka. Sebagai selingan, mereka akan sesekali meluncur tanpa memerlukan tenaga,” ujar Michael Habib, paleontolog Catham University, Pittsburg, AS.

Selain terbang, fosil jejak kaki menunjukkan bahwa pterosaurus bisa bergerak di tanah dengan menggunakan empat kaki seperti kelelawar. Tapi tidak diketahui pasti berapa lama mereka tinggal di tanah atau seberapa cepat mereka bisa berlari.

Pterodactyl mendominasi langit antara jaman Jurassic dan Cretaceous, sekitar  150 - 65 juta tahun lalu. Mereka termasuk hewan berkaki empat dengan sayap membran yang membentang diantara kaki depan dan belakang. Jenis pterodactyl terbesar memiliki berat sekitar 400 pon, dan termasuk hewan terbang terbesar yang pernah ada. Mereka dapat bertahan hidup di Bumi selama 150 tahun. Riset baru yang cukup mencengangkan adalah pterosaurus mampu terbang melanglang buana melintasi berbagai benua. Fosil Pterodactyl telah ditemukan di seluruh Eropa, Amerika Utara, Austrailia, dan Afrika.
Pterodactyl  cenderung hidup di gua-gua dan pohon. Mereka makan serangga besar, ikan, bangkai dinosaurus dan hewan lainnya dan tinggal di dekat laut.. Mereka adalah salah satu reptil hanya terbang selama periode dinosaurus. Sayap pterodactyl tidak seperti itu dari burung. Pterodactyls memiliki 4 "jari" dan tiga dari mereka akan berakhir pada sekitar setengah dari sayap. Jari terakhir akan memperpanjang keluar sampai akhir sayap.
Namun Tim peneliti internasional yang di dalamnya terdapat profesor dari George Washington University (GW) telah menemukan dan menamai pterodactyloid paling awal dan paling primitif. Pterodactyloid adalah sekelompok reptil terbang terbesar yang diketahui pernah ada. Reptil terbang tersebut ternyata telah terbang di atas Bumi sekitar 163 juta tahun yang lalu, lebih lama dari waktu yang diketahui sebelumnya.Fosil pterodactyl paling awal tersebut ditemukan di barat laut China. Suatu proyek penelitian yang dipimpin oleh paleontolog Brian Andres dari University of South Florida (USF), James Clark dari GW Columbian College of Arts and Sciences dan Xu Xing dari Chinese Academy of Sciences memberi nama spesies pterosaurus baru tersebut Kryptodrakon progenitor.Melalui serangkaian analisis ilmiah, tim peneliti menetapkan spesies tersebut sebagai pterosaurus pertama yang memiliki karakteristik Pterodactyloidea, yang merupakan makhluk bersayap paling dominan di dunia prasejarah. Penelitian mereka akan dipublikasikan secara online pada hari Kamis di jurnal Current Biology.
Rincian pterosaur baru, yang diterbitkan dalam Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, terlihat cocok menempati celah evolusi itu. Penamaan Darwinopterus yang berarti sayap Darwin, nama kehormatan pterosaur untuk Darwin yang merayakan ulang tahun ke-200 kelahiran Charles Darwin dan peringatan ulang tahun ke 150 bukunya: On The Origin of Species. Celah dalam catatan fosil merupakan hal yang umum, hanya sebagian kecil dari semua binatang dan tumbuhan yang pernah hidup cukup beruntung menjadi fosil abadi, dan hanya proporsi kecil ini telah dikumpulkan hingga saat ini. Akibatnya, pemahaman peneliti, baik tentang sejarah kelompok-kelompok tertentu seperti pterosaurus, serta proses evolusi dalam sejarah, masih tumpang tindih dan sering kontroversial.
Lebih dari 20 fosil kerangka Darwinopterus (beberapa dari mereka lengkap), ditemukan awal tahun ini di utara-timur Cina, bebatuan sekitar 160 juta tahun yang lalu. Ini mendekati batas akhir zaman Jurassic dan setidaknya 10 juta tahun lebih tua daripada burung pertama, Archaeopteryx. Rahang panjang dengan deretan gigi runcing dan leher lebih fleksibel, menunjukkan bahwa pterosaur mungkin seperti elang modern, menangkap dan membunuh makhluk terbang kontemporer lainnya. Termasuk berbagai pterosaurus, meluncur menuju mamalia yang lebih kecil seukuran merpati.
Pterodactyl memiliki kemampuan penglihatan sangat luar biasa. Hal ini dikarenakan proporsi floculi (suatu bagian otak yang mempengaruhi penglihatan) dalam otak Pterodactyl mencapai 7,5% dimana biasanya hewan vertebrata lain memiliki volume floculi sekitar 1% – 2%, menurut peneliti dari Ohio University. Namun proporsi yang besar ini lebih disebabkan oleh bentangan sayapnya yang lebar, karena selain berhubungan dengan otot mata, flocculi juga berhubungan erat dengan kerja syaraf sensorik.
Berdasarkan bentuk dan jenis Pterosaurus, Pterosaurus bukan nenek moyang burung modern, karena nenek moyang burung adalah sejenis dinosaurus darat kecil berbulu.Beberapa fosil pterosaurus ditemukan di gua-gua sehingga membuat ilmuwan juga percaya bahwa mereka mungkin hidup dalam kelompok besar seperti banyak burung laut saat ini.Pterosaurus secara umum terlihat lebih mobile dibanding rekan-rekan mereka yang hidup di tanah sehingga ditemukan di area yang lebih tersebar.
Tidak seperti burung modern, pterosaurus anatomi menunjukkan bahwa mereka menggunakan kedua tangan dan kaki mereka untuk mendorong diri dari tanah saat lepas landas, dalam manuver yang dikenal sebagai 'peluncuran berkaki empat. Penurut penelitian pencapaian terbang pterodactyl ini butuh perjuangan karena ukurannya yang besar. Karena sayapnya yang begitu lebar melebihi 10 meter pteridoctyl memiliki kesulitan ketika lepas landas
Pterodactyl adalah burung purba yang telah punah jutaan tahun lalu, namun beberapa tahun lalu di wilayah papua muncul hewan terbang menyerupai pterodactyl. Mungkin burung ini kini mengalami evolusi.
Burung ini kemungkinan masih hidup dan tidak hanya bisa ditemukan di Afrika saja. Pterodactyl yang disebut-sebut masih bertahan hidup dari kepunahan adalah Ropen, Pterodactyl dari Papua New Guinea.Dalam bahasa setempat, kata “Ropen” berarti “setan terbang”. Disebut demikian, karena memang ia memiliki kemampuan terbang dan bentuknya bisa dikatakan “aneh” bagi warga setempat. Secara garis besar, Ropen sangat mirip dengan Kongamato. Namun, ukurannya dengan Kongamato yang membedakannya dengan Kongamato. Ditambah lagi mereka berasal dari daerah yang berbeda, Ropen berasal dari Papua New Guinea sedangkan Kongamato berasal dari Afrika. Ropen berukuran lebih besar dibandingkan dengan Kongamato dengan ukuran sayapnya berkisar antara 20 hingga 24 kaki, kira-kira 7 meter-an. Menurut para saksi, mereka memiliki warna kulit keabuan-abuan dan biasanya muncul dengan kilatan cahaya yang menyertai kemunculannya.