Pterodactyl Si Penguasa Angkasa
Pterosaurus
atau biasa disebut Pterodactyl adalah sejenis reptil terbang. Ia hidup
bersamaan dengan dinosaurus dan punah disekitar waktu yang sama dengan
dinosaurus. Pterodactyl berasal dari bahasa Yunani yang berarti kadal yang
bersayap . Panjang tubuhnya ketika berdiri mencapai 3 meter dan bentangan
sayapnya yang lebar mencapai 10 meter. Sayap pterodactyl terbuat dari suatu zat
kasar dan beberapa pterodactyl memiliki mantel bulu. Pterodactyl selain
terkenal dengan bentangan sayapnya yang lebar juga terkenal karena paruhnya
yang panjang. Pterodactyl diyakini oleh beberapa kalangan ilmuwan, mampu
terbang hingga 10.000 mil tanpa berhenti. Sayap yang lebar digunakan untuk
melepaskan udara hangat dan arus angin dalam melakukan penerbangan jarak jauh. Pterosaurus
memiliki leher panjang dan tertutup oleh struktur seperti bulu dengan kantong
tenggorokan memanjang dari tengah rahang bawah ke bagian atas leher.Makhluk ini
memiliki tengkorak panjang dan sempit dan berisi sekitar 90 gigi berbentuk
kerucut berukuran besar.
Ciri
khas lain dari pterodactyl adalah tonjolan dibelakang kepalanya. tonjolan di
bagian belakang kepala yang terdiri terutama dari jaringan lunak dan ditutupi
sisik. Karena baru mulai nampak pada spesies dewasa, diperkirakan tonjolan ini
tidak memiliki fungsi praktis dan sekedar sebagai hiasan. Namun Fosil pterodactyl berusia 160 juta
tahun menunjukkan bahwa pejantan menggunakan kepala mereka yang besar untuk
menarik perhatian betina. Dinosaurus reptil betina tidak memiliki tanda
dekoratif apapun di kepala mereka. Di sisi lain, pejantan memiliki ukuran
tengkorak lima kali lebh besar.Pterodactyl
pertama dijelaskan pada tahun 1784 oleh Cosimo Alessandro
Collini. Pada awalnya dia berpikir menemukan makhluk laut yang menggunakan
sayapnya sebagai dayung. Kemudian Seorang naturalis Perancis, Georges Cuvier,
memperkenalkan istilah “Ptero-dactyle” pada tahun 1809 setelah ditemukannya
kerangka fosil di Bavaria, Jerman
Pterodactyl merupakan salah satu pterosaurus (reptil terbang purba)
yg paling terkenal. Pterodactyl menjadi nama sub ordo (Pterodactyloidea) yg
menjadikan pterosaurus terbagi 2 kelompok (Pterodactyloidea dan
Rhamphorhynchoidea). Hewan yg hidup pada periode Jurassic ini bukanlah
dinosaurus, sebab pterodactyl tidak memiliki ciri khas tulang pubis dan tulang
ekor dinosaurus (pada ornithischia dan saurischia) serta semua dinosaurus adalah
hewan darat yg tidak bisa terbang. Fosil pterodacytl ditemuukan di Eropa dan
Afrika. Seperti
kebanyakan pterosaurus, sayap pterodactylus terbentuk dari kulit dan membran
otot yg membentang dari keempat jarinya hingga tungkai belakangnya. Sayap
luarnya disangga fiber kolagen sementara bagian luarnya disangga keratin.
“Kemungkinan mereka hanya mengepakkan sayap
selama beberapa menit pada saat yang sama, kemudian mereka akan memfungsikan
otot mereka. Sebagai selingan, mereka akan sesekali meluncur tanpa memerlukan
tenaga,” ujar Michael Habib, paleontolog Catham University, Pittsburg, AS.
Selain
terbang, fosil jejak kaki menunjukkan bahwa pterosaurus bisa bergerak di tanah
dengan menggunakan empat kaki seperti kelelawar. Tapi tidak diketahui pasti berapa
lama mereka tinggal di tanah atau seberapa cepat mereka bisa berlari.
Pterodactyl mendominasi langit antara jaman
Jurassic dan Cretaceous, sekitar 150 - 65
juta tahun lalu. Mereka termasuk hewan berkaki empat dengan sayap membran yang
membentang diantara kaki depan dan belakang. Jenis pterodactyl terbesar
memiliki berat sekitar 400 pon, dan termasuk hewan terbang terbesar yang pernah
ada. Mereka dapat bertahan hidup di Bumi selama 150 tahun. Riset baru yang
cukup mencengangkan adalah pterosaurus mampu terbang melanglang buana melintasi
berbagai benua. Fosil
Pterodactyl telah ditemukan di seluruh Eropa, Amerika Utara, Austrailia, dan
Afrika.
Pterodactyl cenderung hidup
di gua-gua dan pohon. Mereka makan serangga besar, ikan, bangkai dinosaurus dan hewan
lainnya dan tinggal di dekat laut.. Mereka
adalah salah satu reptil hanya terbang selama periode dinosaurus. Sayap pterodactyl tidak seperti itu dari burung. Pterodactyls memiliki 4 "jari" dan tiga dari mereka
akan berakhir pada sekitar setengah dari sayap. Jari
terakhir akan memperpanjang keluar sampai akhir sayap.
Namun
Tim peneliti internasional yang di dalamnya terdapat profesor dari George
Washington University (GW) telah menemukan dan menamai pterodactyloid paling
awal dan paling primitif. Pterodactyloid adalah sekelompok reptil terbang
terbesar yang diketahui pernah ada. Reptil terbang tersebut ternyata telah
terbang di atas Bumi sekitar 163 juta tahun yang lalu, lebih lama dari waktu
yang diketahui sebelumnya.Fosil pterodactyl paling awal tersebut ditemukan di
barat laut China. Suatu proyek penelitian yang dipimpin oleh paleontolog Brian
Andres dari University of South Florida (USF), James Clark dari GW Columbian
College of Arts and Sciences dan Xu Xing dari Chinese Academy of Sciences memberi
nama spesies pterosaurus baru tersebut Kryptodrakon progenitor.Melalui
serangkaian analisis ilmiah, tim peneliti menetapkan spesies tersebut sebagai
pterosaurus pertama yang memiliki karakteristik Pterodactyloidea, yang
merupakan makhluk bersayap paling dominan di dunia prasejarah. Penelitian
mereka akan dipublikasikan secara online pada hari Kamis di jurnal Current
Biology.
Rincian
pterosaur baru, yang diterbitkan dalam Proceedings of the Royal Society B:
Biological Sciences, terlihat cocok menempati celah evolusi itu. Penamaan
Darwinopterus yang berarti sayap Darwin, nama kehormatan pterosaur untuk Darwin
yang merayakan ulang tahun ke-200 kelahiran Charles Darwin dan peringatan ulang
tahun ke 150 bukunya: On The Origin of Species. Celah dalam catatan fosil
merupakan hal yang umum, hanya sebagian kecil dari semua binatang dan tumbuhan
yang pernah hidup cukup beruntung menjadi fosil abadi, dan hanya proporsi kecil
ini telah dikumpulkan hingga saat ini. Akibatnya, pemahaman peneliti, baik
tentang sejarah kelompok-kelompok tertentu seperti pterosaurus, serta proses
evolusi dalam sejarah, masih tumpang tindih dan sering kontroversial.
Lebih
dari 20 fosil kerangka Darwinopterus (beberapa dari mereka lengkap), ditemukan
awal tahun ini di utara-timur Cina, bebatuan sekitar 160 juta tahun yang lalu.
Ini mendekati batas akhir zaman Jurassic dan setidaknya 10 juta tahun lebih tua
daripada burung pertama, Archaeopteryx. Rahang panjang dengan deretan gigi
runcing dan leher lebih fleksibel, menunjukkan bahwa pterosaur mungkin seperti
elang modern, menangkap dan membunuh makhluk terbang kontemporer lainnya.
Termasuk berbagai pterosaurus, meluncur menuju mamalia yang lebih kecil
seukuran merpati.
Pterodactyl memiliki kemampuan penglihatan sangat luar biasa. Hal
ini dikarenakan proporsi floculi (suatu bagian otak yang mempengaruhi
penglihatan) dalam otak Pterodactyl mencapai 7,5% dimana biasanya hewan
vertebrata lain memiliki volume floculi sekitar 1% – 2%, menurut peneliti dari
Ohio University. Namun proporsi yang besar ini lebih disebabkan oleh bentangan
sayapnya yang lebar, karena selain berhubungan dengan otot mata, flocculi juga
berhubungan erat dengan kerja syaraf sensorik.
Berdasarkan
bentuk dan jenis Pterosaurus, Pterosaurus bukan nenek moyang burung modern, karena
nenek moyang burung adalah sejenis dinosaurus darat kecil berbulu.Beberapa
fosil pterosaurus ditemukan di gua-gua sehingga membuat ilmuwan juga percaya
bahwa mereka mungkin hidup dalam kelompok besar seperti banyak burung laut saat
ini.Pterosaurus secara umum terlihat lebih mobile dibanding rekan-rekan mereka
yang hidup di tanah sehingga ditemukan di area yang lebih tersebar.
Tidak seperti
burung modern, pterosaurus anatomi menunjukkan bahwa mereka menggunakan kedua
tangan dan kaki mereka untuk mendorong diri dari tanah saat lepas landas, dalam
manuver yang dikenal sebagai 'peluncuran berkaki empat. Penurut penelitian
pencapaian terbang pterodactyl ini butuh perjuangan karena ukurannya yang
besar. Karena sayapnya yang begitu lebar melebihi 10 meter pteridoctyl memiliki
kesulitan ketika lepas landas
Pterodactyl
adalah burung purba yang telah punah jutaan tahun lalu, namun beberapa tahun
lalu di wilayah papua muncul hewan terbang menyerupai pterodactyl. Mungkin
burung ini kini mengalami evolusi.
Burung ini kemungkinan
masih hidup dan tidak hanya bisa ditemukan di Afrika saja. Pterodactyl yang
disebut-sebut masih bertahan hidup dari kepunahan adalah Ropen, Pterodactyl
dari Papua New Guinea.Dalam bahasa setempat, kata “Ropen” berarti “setan
terbang”. Disebut demikian, karena memang ia memiliki kemampuan terbang dan
bentuknya bisa dikatakan “aneh” bagi warga setempat. Secara garis besar, Ropen
sangat mirip dengan Kongamato. Namun, ukurannya dengan Kongamato yang
membedakannya dengan Kongamato. Ditambah lagi mereka berasal dari daerah yang
berbeda, Ropen berasal dari Papua New Guinea sedangkan Kongamato berasal dari
Afrika. Ropen berukuran lebih besar dibandingkan dengan Kongamato dengan ukuran
sayapnya berkisar antara 20 hingga 24 kaki, kira-kira 7 meter-an. Menurut para
saksi, mereka memiliki warna kulit keabuan-abuan dan biasanya muncul dengan
kilatan cahaya yang menyertai kemunculannya.