“Peranan Jamur
Sebagai Pengendali hayati Serangga hama”
ü Pengendalian hama secara kimiawi banyak menimbulkan masalah, antara lain:
akumulasi residu pestisida
ü Pengendalian hama secara biologi relatif tidak menimbulkan masalah selain menggunakan serangga predator, dapat menggunakan: jamur.
Jamur dapat
dikatakan lebih potensial daripada serangga predator karena,
1.
Mempunyai
kapasitas reproduksi yang tinggi
2.
Mempunyai
generation time pendek
3.
Mempunyai aktivitas yang spesifik, hanya
menyerang inang tertentu.
4.
Mempunyai fase istirahat yang dapat
dipertahankan selama belum ada inang yang sesuai
Adapun kelemahan jamur sebagai pengendali hayati
serangga hama:
1.
Jamur mungkin tidak membunuh, tetapi hanya
merusak inang saja.
2.
Jamur lebih banyak mengurangi jumlah inang
daripada menghilangkan inang.
3.
Jamur mungkin mengurangi dan menghilangkan
inang dengan perlahan-lahan
Serangan jamur terhadap serangga pada umumnya dalam stadia: Larva dan Pupa
Cara Masuk Jamur Ke Dalam Tubuh Serangga :
1.
Melalui saluran pernafasan
Serangga bernafas dengan trakhea.
Trakhea mempunyai muara pada permukaan tubuh
serangga yaitu: spirakel atau stigma
2.
Melalui
saluran pencernaan
Cara Masuk Spora Melalui Saluran Pernafasan Serangga: mula-mula spora kapang melekat pada stigma, lalu spora mulai
berkecambah, lalu tumbuh hifa dan masuk ke trakea, lalu terbentuk miselium, dan
menghambat saluran pernafasan serangga, akhirnya serangga pun mati
Cara Masuk Spora Melalui Saluran Pencernaan Makanan Serangga : Serangga makan daun atau biji-bijian yang terkontaminasi
oleh kapang , Spora-spora kapang berkecambah menjadi hifa
dan miselium , Menyumbat saluran pencernaan makanan, lalu berakhir dengan kematian
Contoh kapang parasit pada serangga
1.
Spesies-spesies anggota genus
Chytridiomycetes, yaitu: Coelomyces menyerang larva nyamuk dalam rongga
coelom.
2.
Jamur membentuk “hyphal bodies” dalam
darah inangnya membunuh inang.
3.
Serangan jamur pada serangga dewasa dilakukan oleh hifa yang
tumbuh melalui sekat-sekat antar ruas tubuh inang.
4.
Entomophthora grylli menyerang belalang.
5.
E. grylli menyerang belalang, sebagian besar mati pada
sore hari spora-spora disebarkan pada tiap saat dimana kelembaban udara cukup.
6.
Jamur Entomophtorales dapat tahan hidup di
luar inang yang telah mati terbungkus miselium dalam bentuk sporangia
istirahat
7.
Beauveria bassiana (Hyphomycetes) menyebabkan penyakit muscardine pada ulat sutera dengan ciri-ciri: larva
mati dengan tubuh keras dengan selubung berwarna putih serupa “mumi putih” konidia putih tersebar di lingkungan dan mengkontaminasi larva lainnya.
8.
Metarhizium anisopliae (Hyphomycetes) telah dimanfaatkan sebagai insektisida dengan nama metaquino untuk
Ceropidae (Homoptera) larva
mengisap batang tebu.
9.
Verticillium lecanii (Hyphomycetes) mengendalikan kutu pengisap (Homoptera: Aphididae), hama pada kedelai.
10.
Entomophthora musca parasit pada lalat rumah menyelubungi kutikula lalat yang telah mati menyebarkan konidia ke lingkungan
menginfeksi lalat lain.